Thursday, November 19, 2009

Komandan Le, Kesuksesan "Manusia Perahu"


Kamis, 19 November 2009 | 10:22 WIB

Pelajaran untuk tidak cepat putus asa bisa disimak dari pengalaman hidup Hung Ba Le. Pria asal Vietnam ini keluar dari negaranya pada usia 5 tahun sebagai ”manusia perahu”. Namun, 34 tahun kemudian dia kembali ke Vietnam sebagai komandan kapal perusak AS, USS Lassen. Dia warga AS berdarah Vietnam pertama yang menjadi komandan sebuah kapal perang AS.

Le (39)—sumber lain menyebutkan Le Ba Hung—hari Minggu (8/11) memimpin USS Lassen merapat di dermaga Danang, Vietnam tengah. Le, yang akrab dipanggil Komandan Le, tiba dengan penampilan resmi sebagai komandan kapal perang AS. Seragam serba putih dengan berbagai simbol militer di dada kiri dan kedua bahunya. Karpet merah menyambut langkah Le dan sejumlah perwira dari Armada VII AS.

”Sungguh luar biasa,” ujar Le saat menjejakkan kaki di dermaga Danang. Saya bisa kembali ke Vietnam setelah 34 tahun, dan datang sebagai komandan kapal perang AS, merupakan kehormatan dan keistimewaan yang luar biasa,” ujarnya. Kamera wartawan cetak dan televisi berkali-kali merekam momentum ini.

Le tetap melepas senyum sekalipun sempat terjadi insiden diplomatik. Sejumlah pejabat Vietnam memboikot acara karena bendera Vietnam tak terlihat bersama bendera AS dipasang di anjungan kapal USS Blue Ridge, kapal komando Armada VII yang merapat di Danang. Namun, semua itu ”cair” setelah bendera merah dengan bintang kuning dikibarkan.

”Bertahun-tahun muncul di benak saya untuk kembali ke Vietnam,” ujarnya.

Bisa melangkahkan kaki di bumi Vietnam punya arti mendalam baginya. ”Saya kini mewakili negara saya, AS. Namun, jujur, saya paham soal Vietnam, budaya, manusianya, tradisinya. Semua itu berperan kunci dalam hidup saya,” tegasnya.

Kontras

Kehadiran Le di Danang itu kontras dengan kondisi pada 30 April 1975, saat dia bersama orangtua dan tiga saudaranya keluar secara diam-diam dari Vietnam. Ayahnya, Thong Ba Le (68), memilih pergi karena nyawa dia dan keluarganya terancam di tangan penguasa komunis Vietnam Utara.

Thong, yang saat itu adalah panglima AL Vietnam Selatan di Danang, merupakan pejabat militer paling senior. Mereka memilih pergi saat pasukan Vietnam Utara terus membombardir dengan roket dan mortir ke Danang. Saigon (kini Ho Chi Minh City), ibu kota Vietnam Selatan, juga mulai dikuasai pasukan Vietnam Utara.

Le yang berusia 5 tahun masih ingat keadaan saat itu. Ayahnya hanya membawa istri dan empat anaknya yang masih kecil, termasuk Le. Empat anak yang lebih besar dibiarkan di Hue, tempat asal Thong, sekitar 80 kilometer utara Danang.

”Dua dari empat kakak saya selama dua tahun harus masuk kamp pendidikan penguasa komunis,” ujarnya.

Perahu nelayan yang membawa mereka bersama sekitar 200 warga Vietnam lainnya terkatung-katung selama dua hari di Laut China Selatan sampai sebuah kapal perang AS menyelamatkan mereka. Di atas kapal itu sudah ada ratusan warga Vietnam lain, yang dikenal sebagai ”manusia perahu”.

Le baru bisa berkumpul lagi dengan empat saudaranya di AS delapan tahun kemudian. Ibunya dan beberapa saudara Le sudah mengunjungi Vietnam, tetapi Le tak sempat karena sibuk dengan sekolah dan pekerjaannya. Dia baru kembali ke Vietnam pada 8 November lalu sebagai komandan kapal perusak USS Lassen, sekaligus membawa misi persahabatan.

Le yang lulus Akademi AL AS tahun 1992 meniti karier di angkatan laut karena mengikuti jejak ayahnya, yang saat itu menjadi komandan pada AL Vietnam dan didukung AS saat berperang melawan Vietnam Utara. Kakeknya juga menjadi panglima pada era kerajaan Vietnam.

”Ayah tak pernah kembali ke tanah kelahirannya,” ujar Le, ayah dua anak ini.

Thong dan Le adalah cerita sukses ”manusia perahu” di AS. Setiba di AS, Thong menjadi kondektur bus, lalu manajer pada jaringan ritel di Virginia. Kesuksesan ini membuat Thong bisa mengirim anak-anaknya belajar hingga universitas.

Le yang pintar mendapat beasiswa. Berprestasi dalam olahraga di SLTA membuat Le bergabung ke Akademi AL. Dia meraih gelar ilmu ekonomi tahun 1992 lalu direkomendasikan menjadi perwira AL AS.

”Saya beruntung,” ujar Le. ”Ayah membawa saya keluar dari Vietnam. Dia memberi peluang bagi kami untuk memiliki kehidupan yang baik,” tambahnya.

Strategi besar

Sejak kejatuhan Vietnam Selatan tahun 1975 ratusan ribu warga Vietnam, yang juga dikenal dengan Viet Kieu, meninggalkan negaranya tanpa tujuan. Belakangan mereka kembali ke Vietnam untuk berbisnis atau menjalin kerja sama.

Sepanjang tahun 2008 sekitar 8 miliar dollar AS dana yang dikirim warga Vietnam ke negaranya. Pengusaha Vietnam memberi jaminan bagi mereka untuk memiliki properti. Mereka juga bisa memiliki kewarganegaraan ganda.

Kehadiran AL AS di Vietnam yang diperkuat dengan kehadiran Komandan Le merupakan bagian dari eskalasi hubungan kedua negara yang semakin hangat. Perang Vietnam yang berlangsung sejak September 1959 dengan 3 juta-4 juta korban tewas di pihak Vietnam dan 58.000 tentara AS itu kini mulai dibiarkan sebagai sejarah buruk yang tak boleh terulang.

Hubungan hangat AS dan Vietnam mulai terjalin sejak AS mencabut embargo ekonomi tahun 1994, setahun sebelum normalisasi hubungan Hanoi dan Washington. Sejak itu AS menjadi pasar nomor satu produk ekspor Vietnam. Kehangatan kedua musuh lama ini juga erat berkaitan dengan perkembangan geopolitik di Laut China Selatan.

”Bertahap dan mantap,” ujar Carlyle B Thayer, ahli peta militer Vietnam, seperti dikutip International Herald Tribune. Kehadiran Komandan Le adalah bagian dari strategi ini. Vietnam menghendaki kehadiran militer AS untuk mengimbangi militer China yang kian besar ke Laut China Selatan. Kehadiran militer AS juga tidak demonstratif, yang bisa membuat China geram.

Le yang sukses menjadi simbol lain. Media Vietnam meliput dia secara luas. Bahkan ia diperkenankan mengunjungi Hue, kampung asal nenek moyangnya, untuk bertemu sanak keluarga yang masih ada. Ia juga berziarah ke makam leluhurnya.

Le mengemukakan perlunya kerja sama dan latihan perang antarkedua negara pada masa depan. ”Ini akan membantu stabilitas regional di kawasan ini dan mendorong saling pemahaman kapabilitas masing-masing,” katanya.

Datang sebagai komandan jelas membuat Le mendapat pelayanan ekstra. ”Saya ingin kembali seperti warga biasa. Saya tak tahu kapan akan kembali lagi,” ujar Le, yang hanya sedikit memahami bahasa Vietnam. Le adalah cerita sukses ”manusia perahu” Vietnam.

kompas.com

0 comments:

Post a Comment